Catatan HBH Lintas Generasi, 25 April 2023
Oleh: Kang Sapto (Alumni SDN 2 Wonoboyo)
Kenangan semasa SD bersama teman sekolah dan bermain kala itu, selalu bikin rindu kampung halaman yang tak akan bisa tergantikan di tempat lain. Saat musim penghujan, berangkat sekolah saat itu adalah sesuatu perjuangan yang berat. Maklum sekitar SD itu bertanah liat berwarna merah. Orang desa menyebut tanah lempung abang sedang orang sekolahan menyebutnya tanah latosol.
Jalan berupa tanah merah yang liat itu jika terguyur air hujan akan menjadi sangat licin, istilahnya mblekuk, lunyu, kelet ana sikil. Murid dari arah selatan SD pasti susah payah, karena jalannya licin dan menanjak. Anak perempuan yang mengenakan sepatu pasti akan melepas sepatunya terus di cangking dan besuk lagi kapok tidak akan pakai sepatu lagi. Jika pakai sepatu, pasti akan tertanam di tanah liat dan susah diangkat lagi. Liwat dalan kuwi mesthi mlakune kepleset pleset Yen ora ati ati isa tiba ke jlungub, bali mulih ora sida sekolah.
Mungkin itu salah satu alasan anak SD kami, tahun 80 an tidak pernah pakai sepatu alias cekeran seperti ayam blorok berjalan kesana kemari tanpa alas kaki. Dan karena sebagian besar orang tua kami memang belum pernah membelikan sepatu. Namun saat pulang sekolah nanti, akan berubah jadi euforia bagi bocah bocah cilik berseragam SD itu. Menjadi ajang berselancar menuruni jalan dari sisi Barat SD ke Selatan melewati timur rumah Lik Sutiyo yang lihai menyuling itu.
Saat berselancar kami perlu kewaspadaan tingkat Kungfu Master karena di sebelah kiri ada pagar berupa tanaman serat sejenis Agave dengan ujung berduri siap melukai. Kami anak anak SD perlu menjaga keseimbangan agar tidak jatuh, tetapi tetap melaju kencang.
Saat musim kemarau panjang jalan tanah merah itu kondisinya berubah berbalik 180 derat, jadi retak retak menganga dan berdebu. Debu tebal berwarna merah itu juga ada di lantai kelas kami yang berwujud lantai tanah. Boro boro dikeramik, di plester campuran pasir, gamping dan gilingan bata merahpun belum. SD kami belum mampu, sedangkan dinding sekolah pun masih kelihatan pasangan bata merahnya. Debu di lantai sekolah itu semakin menebal jika anak yang piket malas, tidak mau menyirami lantai kelas. Maka saat semua murid keluar kelas, tak terkecuali, perempun dan laki laki, kaki kecil tanpa sepatu sandal itu akan berubah warna. Seperti dilumuri bedak coklat kemerahan.
Saben ana uwong sing weruh sikil sikil ketara ledhis iku, mesti bakal trenyuh, lan ngelus dada. Tetapi bagi kami adalah kebanggaan, karena hal itu saat ini dipakai jadi teknologi treatment skin care bagi sosialita melumuri kaki , tangannya dengan debu dicampur air. Kebanggaan pada Ibu Bapak Guru kami adalah telah memberi bekal bukan hanya ilmu tetapi juga melatih syaraf motorik kami. Otot motorik kami dipastikan lebih bagus dari generasi millenial sekarang ini. Seminggu sekali kami diberi jatah piket menyapu ruang kelas , halaman sekolah, mengambil air ke sumur terdekat, merebus air untuk minuman teh para Guru kami. Sekolah kami saat itu belum punya Asisten Sekolahan semacam Asisten Rumah Tangga.
Membuat prakarya kerajinan dari macam-macam bahan berupa anyaman, pahatan, cetakan menginpirasi sebagian dari kami. Acara lomba memasak yang diadakan secara berkala adalah pelajaran yang membawa terabaikan tetapi menjadi jalan rejeki sebagian teman kami saat ini. Dan yang lebih melatih syaraf motorik kami yaitu acara mengambil pasir ke Prengguk, sisi timur Bengawan Solo. Kami ada yang membawa wadah tompo berupa kerancang kecil dari anyaman bambu. Menuju Prengguk, tepi Bengawan Solo berjarak kurang sekitar 1,5 km. Agar segera terkumpul banyak pasir, kami perlu 2 sampai 3 kali jalan membawa pasir. Murid perempuan: Suwarni, Anik, Sakatni, Daryati, Sulastri, Sutini, Sri Supadmi, Noor dll biasanya menggedhong dengan selendang di punggung dan murid laki laki : Suyato, Margono, Sunardi, Sugeng, Widodo, Misri, Suparno, Sariyo menyunggi di kepala. Selain pasir kami sesekali mengambil teras berupa batu padas berwarna kehijauan yang dilembutkan, tempatnya di sisi timur makam Badran sebelah timur laut SD.
Murid laki laki yang merasa mampu sering diajak Bapak Guru Sutiyo untuk bikin adukan campuran pasir, kapur , gilingan bata merah dan teras dengan perbandingan tertentu. Digunakan untuk plester penutup susunan bata merah dinding kelas kami. Kami diajari mengayunkan cethok agar adonan menempel di dinding dan tidak tumpah jatuh ke lantai. Mungkin ada beberapa murid diantara kami yang menghayati pelajaran praktek dari Bapak Sutiyo tersebut, sehingga ada diantara kami jadi Insinyur Teknik Sipil, atau Pemborong Bangunan.
Anak anak SD sebaya kami mempunyai imunitas tinggi tidak mudah sakit karena asupan gizi yang variatif dan alami. Kami sering mencari rontokan buah yang musim saat itu: sawo, jambu, mangga, nangka dll. Juga berburu serangga diolah untuk disantap.
Saat musim penghujan tiba kami berburu belalang kayu dengan ketapel atau lem berupa pulut dari nangka muda. Belalang biasanya nempel di pohon Turi, Mlandhing, Nangka Jati. Hasil belalang buruan itu dikantheti dengan lidi daun kelapa yang ujungnya ditalikan melingkar agar belalang tidak lepas. Belalang disusun satu persatu di lidi, sehingga saat dibawa belalang tersusun vertikal dari bawah dari ujung lidi, penuh sampai atas, di pangkal lidi. Juga kadang berburu gangsir semacam jangkrik raksasa yang sembunyi di tanah dengan mencari lubang sembunyi berupa onggokan tanah remah, atau berburu gendhon turi yang hidup di dalam pangkal patang tanaman Turi.
Binatang insekta itu santapan lezat bagi generasi kami dengan digoreng atau dibakar. Saat musim kemarau buah jambu mete selalu kami nantikan kehadirannya. Yang kami incar terutama adalah biji mete. Saat mete masih berwarna hijau, kami biasa memetik, tentunya saat orang tua kami tidak mengawasi. Biji muda itu dibelah dengan pisau kecil yang terbuat dari paku yang ditipiskan dengan ditempa. Biji buah mete muda di cungkil dengan pisau kecil, biji mete muda dioleskan ke telapak kaki agar getah hilang aman, tidak terkena bibir.
Jika getah biji mete terkena bibir orang tua kami pasti memarahi karena bibir jadi pludhohen yakni terluka dan korengan. Saat buah jambu mete sudah kekuningan atau kemerahan, dan biji mete sudah keras berwarna abu abu, jadwal perburuan mete kami tingkatkan frekuensinya. Buah mete dimakan dengan sedikit garam agar tidak serak di tenggorokan. Biji mete tua di kumpulkan untuk sebuah ritual mewah bagi kami yaitu mbakar mete
Sariyo,Suparno, Misri, Suyato, Sukatno,Triyadi adalah geng SD kami. Kami cukup menyiapkan dedaunan bambu kering, biji mete tua ditaruh didalamnya kemudian disulut dengan api. Kami tidak perlu membawa korek api, tetapi cukup membawa tapas kering dari mancung buah kelapa, atau babal bunga kluwih kering yang rontok. Kami tahu bagaimana mengubah bara yang menyala di ujung tapas atau babal jadi api. Ritual mewah itu segera terwujud saat aroma asap dari minyak kulit mete menyebar harum kesekitar yang bisa tercium sampai puluhan meter jika terhembus angin.
Saat api dari daun bambu sudah padam, dan biji mete sudah menghitam segera dibagi rata diantara anggota kami dan digepuk satu satu. Aroma biji mete bakar semakin mengucurkan air liur dari kelenjar saliva kami. Dan saat biji mete bakar hangat kami kunyah, gurihnya menyentuh ujung syaraf pengecap lidah kami. Rasanya sangat gurih, sepertinya kami telah menjadi Master Chef hebat yang bisa menghasilkan kuliner sangat lezat bagi kami sendiri segerombolan anak anak SD. Kini biji mete yang berasal dari Wonogiri itu, semakin diburu Ibu ibu se Nusantara karena cita rasanya yang gurih tiada tara. Akan terhidang di meja tamu, terutama saat lebaran tiba.
Saat di sekolah tidak setiap hari kami mampu membeli jajan karena tak punya uang saku, walau hanya sekedar semangkok bubur sumsum berkuah gula kelapa bikinan Mbah Minem yang harganya Rp 5 saat itu.
Generasi kami masih sangat doyan kuliner khas mada kecil kami:
Gudhangan yang disajikan dengan sambal wijen berwarna hitam yang disebut Cabuk.
Tempe goreng oser dengan balutan tepung yang berasal dari tempe mlandhing/lamtoro.
Mie kolor yang terbuat dari tepung tapioka yang diiris persegi memanjang.
Semua itu selalu kami rindukan, bagi generasi kami yang bukan generasi mellenial tetapi generasi paska kolonial.
Bisa besilaturahmi dengan para Ibu Bapak Guru semasa SD adalah mimpi lama yang benar benar bisa terwujud. Terima kasih Guruku, semoga Jasa mu menjadi amal kebaikan yang terus mengalir. Terutama bagi Bapak Burhadi, walaupun galak tetap dicintai murid muridnyanya yang telah mengabdi di SDN Wonoboyo 2 selama 42 tahun tanpa pindah Sekolah. Dimulai sejak merintis sekolah SDN Wonoboyo 2 dari tahun 1967 hingga pensiun tahun 2008
Akan selalu dikenang oleh murid jasa: Ibu Tekad, Ibu Marhamah, Ibu Is, Ibu Farida, Ibu Siti, Bp Mino dan lain lain.
Sapto Ciptanto/26 04 2023/ HBH SD Lintas Generasi.
