STUDI TIRU: BUDAYA POSITIF DIMULAI DARI GERBANG SEKOLAH

Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) Kecamatan Wonogiri  melakukan kunjungan ke SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta, Selasa 7 Maret 2023. Kunjungan ini dalam rangka studi tiru untuk menggali informasi terkait dengan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM), pembelajaran, manajemen atau pengelolaan baik dalam pengelolaan anggaran, pengelolaan dalam proses belajar mengajar, digitalisasi sekolah dan sarana pra sarana di SD Muhammadiyah 1 Surakarta.

Rombongan studi tiru yang terdiri dari Kepala Sekolah se-Kecamatan Wonogiri, Pengawas dan Kordinator wilayah Bidang Pendidikan Kecamatan Wonogiri diterima langsung oleh Kepala SD Muhammadiyah 1  Surakarta Ibu Sri Sayekti, S.Pd.,M.Pd bersama Bp. Jatmiko selaku Waka Humas.

Kegiatan diawali dengan ucapan selamat datang oleh kepala sekolah Ibu Sri Sayekti, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa SD Muhammadiyah 1 Surakarta merupakan sekolah yang sudah sangat tua karena berdiri tahun 1935. “Dengan siswa yang berjumlah 680 dan guru 75 orang, sekolah ini telah menyiapkan pendidikan dengan paradigma baru dan harus bisa menyesuaikan diri di era baru. “Di usianya yang 88, diharapkan SD Muhammadiyah 1  tetap memberikan manfaat bagi Pendidikan baik di Surakarta pada khususnya maupun Indonesia pada umumnya”, ujar Sayekti.

Sementara dalam sambutannya Koordinator Wilayah Bidang Pendidikan Kecamatan Wonogiri Bapak Pamuji, S.Pd.,M.Pd. menyampaikan  bahwa maksud dan tujuan dan kedatangan Kepala Sekolah  se-Kecamatan Wonogiri adalah untuk belajar praktik baik implementasi kurikulum merdeka yang ada di SD Muhammadiyah 1 Surakarta yang merupakan sekolah penggerak angkatan pertama.

Acara dilanjutkan dengan paparan materi oleh kepala SD Muhamaadiyah Surakarta Ibu Sri Sayekti, S.Pd., M.Pd. Beliau mangatakan bahwa, saat ini sekolah sedang berusaha memperbaiki Pendidikan di Indonesia melalui Kurikulum Merdeka. Harapannya kalau setiap sekolah melakukan perubahan, kemudian menggerakan satu sama lain, maka sekolah itu akan menjadi baik.

Menurut Sri Sayekti, jika sekolah sudah melakukan IKM, maka semua program sekolah harus berbasis data. Data yang pertama adalah Rapor Satuan Pendidikan, yang terkoneksi dengan ARKAS, karena secara otomatis pusat akan melihat bagaiman rapor sekolah dan bagaimana rekomendasi yang muncul dan dari situlah sekolah menyusun ARKAS.

Menurut Sayekti, dalam penyusunan ARKAS fokusnya adalah pengembangan hasil belajar siswa, tidak lagi pada program pengembangan bangunan. Sebagai contoh di wilayah Surakarta  anggaran untuk peningkatan kompetensi guru satu tahun mencapai empat kali sampai delapan kali. Karena pengembangan pembelajaran secara holistik untuk siswa diawali dari pengembangan kompetensi kepala sekolah dan guru. Sekolah yang menerapkakan IKM harus memperbanyak kegiatan IHT, Workshop, FGD, dan diskusi komunitas praktisi.

Profil sekolah yang baik adalah sekolah yang hasil pembelajarannya bagus, gurunya juga unggul. Sayekti mengatakan bahwa,  ada empat hal yang meski dilakukan ketika sekolah sudah melakukan Kurikulum Merdeka. Pertama adalah intrakurikuler yang pembelajaranya menggunakan pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Kedua adalah projek penguatan profil pelajar Pancasila (P5). P5 adalah program kokurikuler. Program ini berdiri sendiri dalam kurikulum. Ketiga adalah ektrakurikuler. Dalam IKM kegiatan ektrakurikuler endingnya adalah profil pelajar Pancasila, maka kegiatan yang dikembangkan adalah kegiatan yang menumbuhkan profil pelajar Pancasila. Keempat adalah budaya sekolah yang disesuaikan dengan karakteristik sekolah masing-masing.

Menurut Sayekti, terkait budaya sekolah maka  yang perlu digaris bawaih adalah adalah budaya positif di sekolah. Kepala sekolah harus menciptakan iklim aman di sekolah, bagaimana kepala sekolah menerima guru secara utuh dan guru menerima kepala sekolah secara utuh. Kepala sekolah harus bisa datang lebih awal,  untuk menyapa kedatangan guru dan siswa. Menurutnya budaya positif sekolah bisa dimulai dari gerbang sekolah, dimana guru menyambut kedatangan siswa dengan ramah dan memberikan rasa aman bagi peserta didik. Kegiatan ini juga bisa dimanfaatkan sekolah untuk merangkul orang tua selaku pemangku kepentingan sekolah dan  membangun komunikasi yang harmonis dengan orang tua untuk mendapatkan dukungan terkait program yang diselenggarakan sekolah.

Selain sebagai sekolah penggerak, SD Muhammadiyah 1 juga mengembangkan sekolah digital. Dengan memanfaatkan akun pembelajaran guru dan siswa, kepala sekolah bisa membuat drive bersama untuk kegiatan supervisi administrasi, supervise pembelajaran dan penyusunan perangkat pembelajaran. Termasuk dalam sekolah digital adalah  digitaliasi layanan siswa dengan adanya kartu pelajar  multifungsi. Kartu pelajar yang bisa digunakan untuk absensi yang terkoneksi dengan HP orang tua, pembayaran SPP, peminjaman buku, dan alat transaksi pembayaran di kantin. Setelah kegiatan paparan dilanjutkan dengan observasi secara langsung mengenai keadaan sekolah, kondisi sarana dan prasarana lainnya yang dapat mendukung pembelajaran di SD Muhammadiyah 1 Surakarta. Para peserta studi tiru diajak mengunjungi ruang kantin, ruang UKS, ruang kepala sekolah dan ruang perpustakaan, ruang BUMS (Badan Usaha Milik Sekolah).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *